ROBERT SIMANGUNSONG, S.H., M.H., BENDUM DPN PERADI: PERASAAN PALING BENAR ADALAH PINTU TERHADAP KEBUNTUAN, KOREKSI DIRI ADALAH JALAN MENUJU KEBENARAN

Terkini 23 May 2026 09:49 5 min read 12 views By DPN PERADI
ROBERT SIMANGUNSONG, S.H., M.H., BENDUM DPN PERADI: PERASAAN PALING BENAR ADALAH PINTU TERHADAP KEBUNTUAN, KOREKSI DIRI ADALAH JALAN MENUJU KEBENARAN
Bendahara Umum DPN PERADI: Sikap Merasa Paling Benar Matikan Kemauan Belajar dan Memperbaiki Diri

SURABAYA, 23 MEI 2026 – Di tengah perjalanan panjang membesarkan organisasi dan menjaga marwah profesi advokat, satu sifat manusia diakui menjadi penghambat terbesar kemajuan, baik secara pribadi maupun kelembagaan: merasa dirinya paling benar, paling tahu, dan paling tepat. Sikap ini, meski terlihat meyakinkan di permukaan, sesungguhnya adalah dinding tebal yang menghalangi seseorang untuk sampai pada kebenaran hakiki.

 

Hal ini ditegaskan secara tegas oleh Robert Simangunsong, S.H., M.H., Bendahara Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI), dalam sebuah refleksi mendalam mengenai etika, sikap, dan tanggung jawab organisasi. Menurutnya, jebakan terbesar manusia adalah ketika ia yakin 100% dirinya benar, sehingga menutup mata dan telinga dari kemungkinan kekurangan, kesalahan, atau pandangan lain yang lebih baik.

 

Merasa Benar = Menutup Pintu Kebenaran

 

Dalam pandangan Robert, ada perbedaan sangat besar antara berpegang pada kebenaran dengan merasa dirinya yang paling benar. Jika berpegang pada kebenaran adalah sikap mencari keadilan dan kebenaran yang objektif, maka merasa benar adalah sikap subjektif yang menganggap pendapat dan tindakannya satu‑satunya yang tepat.

 

“Ketika kita merasa diri kita sudah paling benar, yakin tak ada yang salah pada diri kita, dan merasa pendapat kitalah yang paling mutlak, maka percayalah: saat itulah kita justru tidak akan pernah menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Mengapa? Karena kita sudah menutup rapat ruang untuk menerima masukan, melihat sudut pandang lain, atau menyadari bahwa kebenaran itu luas dan kita belum tentu memegang seluruhnya,” ujar Robert Simangunsong.

 

Beliau menjelaskan, kebenaran itu luas, dinamis, dan sering kali membutuhkan keterbukaan hati dan pikiran untuk bisa mendekatinya. Orang yang merasa sudah benar biasanya berhenti mencari, berhenti mendengar, dan berhenti belajar. Padahal, dalam dunia hukum dan organisasi, kebenaran harus terus dicari, diperjuangkan, dan dibangun bersama, tidak bisa dimonopoli oleh satu pihak atau satu orang saja.

 

“Merasa paling benar itu bukan wujud keyakinan, melainkan wujud kesombongan berpikir. Dan kesombongan adalah awal dari kegagalan,” tambahnya.

 

Hilangnya Kemauan Mengoreksi Diri

 

Konsekuensi paling berbahaya dari sikap merasa diri paling benar, menurut Robert, adalah hilangnya kebiasaan dan kemauan untuk mengoreksi diri sendiri. Seseorang yang yakin dirinya benar, secara otomatis menganggap bahwa segala kesalahan, masalah, atau kekurangan yang ada pasti berasal dari luar dirinya: dari orang lain, dari keadaan, atau dari pihak lain.

 

“Ketika kita merasa benar, maka kita tidak akan pernah mengkoreksi diri atas kekurangan diri sendiri, apalagi berusaha memperbaikinya. Kita akan sibuk menyalahkan orang lain, mencari kesalahan orang lain, dan menutup‑nutupi kelemahan diri sendiri. Kita jadi seperti cermin yang hanya bisa melihat wajah orang lain kotor, tapi tidak pernah menyadari dirinya sendiri penuh debu,” tegas Bendahara Umum DPN PERADI ini.

 

Robert mengingatkan bahwa kemampuan mengoreksi diri adalah ciri manusia berakal, beretika, dan berjiwa besar. Mengakui kekurangan bukanlah kelemahan, melainkan langkah awal menuju perbaikan dan kesempurnaan. Justru mereka yang diam‑diam menyadari kekurangannya dan berusaha memperbaikinya, itulah yang akan terus tumbuh, berkembang, dan semakin dihormati.

 

“Orang hebat itu bukan orang yang tidak pernah salah, tapi orang yang sadar pernah salah, mau mengoreksi diri, dan bertekad memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi. Sebaliknya, orang yang merasa tak pernah salah, itulah orang yang paling tertinggal dan paling sulit diajak maju,” ucapnya.

 

Relevansi Bagi Organisasi dan Profesi Hukum

 

Dalam kapasitasnya sebagai Bendahara Umum, Robert menilai sikap merasa diri paling benar sangat berbahaya jika dibawa ke dalam organisasi seperti PERADI. Organisasi besar yang menaungi ribuan advokat ini dibangun di atas prinsip musyawarah, saling menghargai, dan saling melengkapi. Jika setiap pengurus atau anggota merasa dirinya paling benar dan menolak dikoreksi, maka persatuan akan runtuh dan organisasi akan berjalan di tempat.

 

Lebih jauh, bagi seorang advokat yang bergerak di bidang hukum dan keadilan, sikap ini adalah musuh utama. Seorang advokat dituntut objektif, cermat, dan mau mendengar berbagai sisi perkara. Jika seorang penegak hukum merasa dirinya selalu benar dan menolak dikoreksi, ia akan mudah terjebak kekeliruan, berat sebelah, dan jauh dari rasa keadilan.

 

“Di PERADI, kita harus tanamkan budaya: mau dikoreksi dan berani mengoreksi diri sendiri. Kita harus sadar bahwa ilmu kita terbatas, pandangan kita terbatas, dan kekurangan itu pasti ada. Maka, mari kita buka hati dan pikiran. Jangan merasa paling benar, karena itu mematikan. Tapi berpeganglah pada kebenaran, karena itu memerdekakan,” ajak Robert.

 

Pesan untuk Kemajuan Bersama

 

Di akhir pernyataannya, Robert Simangunsong menegaskan kembali pesan mendalam ini sebagai bahan renungan bagi seluruh elemen organisasi.

 

“Mari kita buang jauh sikap merasa diri paling benar. Karena dengan sadar bahwa kita belum tentu benar, kita akan terus mencari kebenaran, kita akan terus melihat kekurangan diri, dan kita akan terus berusaha memperbaiki diri. Hanya dengan sikap rendah hati dan mau mengoreksi diri, PERADI akan terus tumbuh, semakin kuat, dan semakin berwibawa dalam menegakkan hukum dan keadilan di Indonesia,” pungkasnya.

 

Pesan ini menjadi pengingat berharga: kebesaran organisasi dan kualitas pribadi advokat diukur dari kerendahan hati untuk terus belajar dan berani membenahi diri sendiri.

 

(Redaksi)

Recent Articles

Chat with us on WhatsApp