H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si (Waketum DPN PERADI): Jangan Samakan Publikasi Kegiatan dengan Pencitraan

Terkini 14 Apr 2026 08:20 2 min read 5 views By DPN PERADI Dr. Imam Hidayat, S.H.,M.H.
H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si (Waketum DPN PERADI): Jangan Samakan Publikasi Kegiatan dengan Pencitraan
Substansi dan Fakta adalah Kunci, Bukan Sekadar Gaya dan Tampilan Semata

JAKARTA, 14 APRIL 2026 – Fenomena penyebaran informasi di media sosial sering kali menimbulkan ambiguitas, di mana batas antara melaporkan kegiatan dan sekadar membangun citra diri sering kali tumpang tindih. Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (Waketum DPN PERADI), H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si, memberikan klarifikasi tegas mengenai perbedaan mendasar antara keduanya.

 

Menurut H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si, publikasi kegiatan memiliki landasan yang kuat yaitu akuntabilitas dan transparansi.

 

"Publikasi kegiatan itu sifatnya wajib. Ini adalah bentuk pertanggungjawaban organisasi atau lembaga kepada publik atau anggotanya. Kami memberitakan apa yang sudah dilaksanakan, berapa capaiannya, dan apa dampak positif yang dirasakan masyarakat. Fokus utamanya adalah pada program dan hasil kerja, bukan pada siapa yang memimpin atau melakukannya," jelas H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si.

 

Lebih jauh dijelaskan oleh tokoh hukum ini, publikasi yang benar harus berbasis data dan fakta objektif, bertujuan memberikan edukasi dan informasi yang valid.

 

Pencitraan Hanya Mengutamakan Ego dan Popularitas

 

Di sisi lain, H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si menegaskan bahwa pencitraan memiliki orientasi yang sangat berbeda dan cenderung merugikan.

 

"Kalau pencitraan, itu sifatnya sukarela dan lebih mengarah pada kepentingan pribadi atau kelompok. Tujuannya hanya untuk membangun persepsi bahwa dirinya hebat, baik, atau populer. Fokusnya bergeser ke arah personal branding, gaya penampilan, dan bagaimana cara terekspos media, meskipun sering kali tidak sebanding dengan realitas kerja yang ada di lapangan," tegas H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si.

 

H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si menekankan bahwa pencitraan sering kali mengorbankan substansi demi kemasan yang menarik. Konten yang dihasilkan cenderung dramatis dan berlebihan, namun hampa dari nilai manfaat yang nyata.

 

Publik Makin Cerdas, Jangan Coba Memanipulasi

 

H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si juga mengingatkan bahwa masyarakat kini semakin kritis dan cerdas dalam menyikapi informasi.

 

"Jangan mencoba memoles fakta atau memanipulasi informasi demi pencitraan semata. Publikasi yang jujur akan membangun kepercayaan yang abadi. Sedangkan pencitraan, walau terlihat indah di layar kaca atau media sosial, pada akhirnya akan terbongkar juga aslinya. Kerja nyata tidak bisa dibohongi oleh kemasan semata," pungkas H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si, Wakil Ketua Umum DPN PERADI**.

 

Pernyataan ini menjadi pengingat penting bagi setiap elemen organisasi untuk tetap konsisten menyajikan informasi yang berintegritas dan menjauhi praktik-praktik kosmetik politik atau organisasi.(red)

Recent Articles

Chat with us on WhatsApp