H. Yovie Megananda Santosa S.H., M.Si (WAKETUM DPN PERADI): Idul Adha: Menemukan Hakikat Pengorbanan dan Kesucian Hati

Breaking news 27 May 2026 09:32 5 min read 8 views By DPN PERADI
H. Yovie Megananda Santosa S.H., M.Si (WAKETUM DPN PERADI): Idul Adha: Menemukan Hakikat Pengorbanan dan Kesucian Hati
Pengorbanan Sejati Adalah Bentuk Ketaatan dan Cinta yang Tulus kepada Allah SWT.

SUMEDANG, 27 MEI 2026 – Hari Raya Idul Adha bukan sekadar perayaan atau serangkaian ibadah yang tampak lahiriah semata, melainkan momen agung yang dihadirkan Allah SWT untuk menjadi sarana pembelajaran, perenungan, dan pembersihan jiwa. Sebuah hari suci yang mengajarkan makna pengorbanan hakiki, keikhlasan yang murni, serta wujud cinta dan ketaatan seorang hamba kepada Penciptanya.

 

Pesan penuh hikmah ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PERADI, H. Yovie Megananda Santosa S.H., M.Si, saat menyampaikan khutbah Idul Adha di Masjid Nurul Panunjang, Desa Padasuka, Kecamatan Sumedang Utara, di hadapan jamaah yang hadir dengan penuh kekhusyukan dan pengharapan.

 

Tantangan Zaman: Pandai Merangkai Kata, Namun Lupa Menjaga Isi Hati

 

Dalam pemaparannya yang menyentuh kalbu, beliau menyoroti realitas zaman yang semakin berkembang pesat. Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia semakin terampil menyusun kata, semakin fasih berbicara, dan semakin pandai menampakkan kesempurnaan di mata sesama. Namun ironisnya, kemajuan itu seringkali justru melalaikan manusia dari hal yang paling utama: menjaga kesucian hati dan kebersihan niat di hadapan Allah SWT.

 

“Di masa ini, manusia semakin pintar berbicara, namun semakin sulit merawat hati. Dunia maya penuh dengan pencitraan, seolah semua orang hidup dalam kebahagiaan sempurna. Padahal banyak yang diam-diam hatinya lelah dan hampa. Banyak yang berlimpah harta, namun kekurangan ketenangan jiwa. Banyak yang menduduki jabatan tinggi, namun lupa bersyukur kepada Sang Pemberi Segala Nikmat,” ungkapnya dengan penuh renungan.

 

Beliau mengingatkan bahwa esensi Idul Adha mengajarkan satu prinsip luhur yang menjadi kunci kebahagiaan sejati: tidak semua yang kita cintai harus menjadi milik kita, namun segala apa yang Allah titipkan ke dalam hidup kita, wajib kita syukuri, kita jaga, dan kita pertanggungjawabkan sebaik-baiknya.

 

Teladan Nabi Ibrahim AS: Ujian Terbesar Adalah Melepaskan Apa yang Paling Dicintai

 

Beliau kemudian mengangkat kisah agung Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagai cermin teladan ketaatan sejati bagi seluruh umat. Nabi Ibrahim diuji Allah bukan dengan kehilangan hal yang tidak disukainya, melainkan dengan sesuatu yang paling dicintai, paling dihargai, dan menjadi kebahagiaan terbesar hidupnya, yaitu putra tercinta Nabi Ismail ‘alaihis salam.

 

Dari peristiwa mulia itu tersirat makna yang sangat dalam: bahwasanya ujian terbesar bagi seorang hamba bukanlah saat ia kekurangan, melainkan saat ia memiliki apa yang paling ia banggakan, paling ia sayangi, dan paling sulit untuk ia lepaskan demi ridha Allah SWT.

 

“Sering kali, ujian yang paling berat bukanlah karena kita tidak memiliki apa-apa, melainkan karena kita sulit untuk melepaskan dan mengikhlaskan apa yang paling kita cintai demi kehendak-Nya,” tambahnya penuh makna.

 

Ketakwaanlah yang Sampai ke Hadirat Allah, Bukan Sekadar Rupa dan Bentuk

 

Lebih lanjut, beliau mengingatkan kembali kepada firman Allah SWT yang menjadi pedoman utama ibadah kurban, sebagaimana tertuang dalam Surah Al-Hajj ayat 37:

 

“لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ”

(Lan yanālallāha luḥūmuhā wa lā dimā’uhā wa lākin yanāluhut-taqwā minkum)

 

Artinya: “Daging dan darah kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dan kesucian hati kalianlah yang sampai kepada-Nya.”

 

Berdasarkan ayat mulia tersebut, beliau menegaskan dengan tegas bahwa Allah SWT tidak menilai hamba-Nya dari kemewahan yang dimiliki, banyaknya harta yang dikumpulkan, tingginya kedudukan yang diraih, atau mahalnya hewan yang disembelih. Penilaian Allah jauh melampaui hal-hal yang tampak mata; Allah hanya melihat kepada apa yang tersembunyi di dalam dada, yaitu keikhlasan dan ketulusan hati.

 

“Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, ketahuilah bahwa hari ini Allah tidak melihat seberapa mahal kurban kita, tidak melihat seberapa megah rumah kita, tidak pula melihat seberapa tinggi jabatan kita. Namun Allah melihat hati yang bersih dari niat buruk, lisan yang lembut dan penuh adab, kesabaran yang kokoh dalam menghadapi ujian, serta ketulusan hati untuk selalu kembali dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya,” tegasnya.

 

Beratnya Hidup Karena Jauh dari Sumber Ketenangan dan Rasa Syukur

 

Beliau juga menyentuh kondisi batin yang banyak dirasakan umat saat ini, di mana kesedihan, kepedihan, dan beban hidup seringkali bukan disebabkan oleh kurangnya materi atau kesulitan ekonomi, melainkan karena jarak yang tercipta antara hati hamba dengan Penciptanya, serta hilangnya rasa syukur yang menjadi kunci ketenangan jiwa.

 

“Sering kali manusia menangis bukan karena tidak memiliki apa-apa, melainkan karena hatinya terasa begitu jauh dari Allah. Dan sering kali hidup terasa begitu berat, bukan karena masalah yang datang terlalu besar, melainkan karena hati kita telah kehilangan rasa syukur yang seharusnya selalu kita pelihara dalam setiap keadaan,” ujarnya menyentuh kalbu para hadirin.

 

Titik Balik Memperbaiki Diri dan Merajut Persaudaraan yang Kokoh

 

Di akhir pesannya, beliau mengajak seluruh umat yang hadir maupun umat Islam di seluruh penjuru untuk menjadikan momen suci Idul Adha ini sebagai titik balik menyucikan hati, memperbaiki diri, serta merajut kembali tali persaudaraan yang mungkin sempat renggang atau terputus.

 

Beliau mengingatkan dengan penuh kelembutan, bahwa segala kemegahan dan kebanggaan duniawi bersifat sementara, tidak akan dapat dibawa melangkah ke alam yang kekal abadi.

 

“Mari di hari yang mulia ini kita saling memaafkan dan melapangkan hati, kita lunakkan perasaan yang mungkin sempat mengeras, kita buang jauh rasa sombong dan tinggi hati, serta kita berhenti menyakiti hati sesama. Ingatlah, nanti di dalam alam kubur, yang akan menemani dan memberi cahaya bukanlah kendaraan mewah, bukan jabatan yang disandang, bukan pula pujian atau tepuk tangan manusia. Yang akan bermanfaat hanyalah doa anak yang saleh, amal perbuatan yang ikhlas semata karena Allah, serta hati yang senantiasa bersih dan tunduk kepada kehendak-Nya.”

 

Pesan khutbah yang penuh berkah ini kemudian ditutup dengan doa permohonan ampun dan keampunan bagi seluruh umat manusia:

 

“وَلَكُمْ مِنِّي اللَّهُ وَأَسْتَغْفِرُ هٰذَا قَوْلِي وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ”

(Aqūlu qaulī hādzā wa astaghfirullāha lī wa lakum)

 

Artinya: “Demikianlah yang dapat saya sampaikan, dan saya memohon ampun serta keampunan kepada Allah untuk diri saya sendiri dan untuk kalian semua.”

 

Pemaparan yang menyatukan nilai ajaran suci Al-Qur’an, keteladanan para nabi, serta renungan mendalam tentang kehidupan ini memberikan pemahaman yang lebih luas dan sempurna: bahwasanya makna Idul Adha yang sejati terletak pada kebersihan hati, ketulusan yang murni, serta ketaatan penuh menyerahkan segala urusan dan keinginan hanya kepada kehendak Allah SWT.

 

(red)

Recent Articles

Chat with us on WhatsApp