"HARI KEMENANGAN IDUL FITRI: DI MANA TOLERANSI, KEADILAN, DAN HUKUM BERBERSAMAAN – WAKIL KETUA UMUM DPN PERADI H. YOVIE MEGANANDA SANTOSA, S.H., M.SI: NILAI-NILAI IDUL FITRI SEBAGAI FONDASI MASYARAKAT YANG BERADAB"

Terkini 22 Mar 2026 09:36 4 min read 8 views By DPN PERADI Dr. Imam Hidayat, S.H.,M.H.
"HARI KEMENANGAN IDUL FITRI: DI MANA TOLERANSI, KEADILAN, DAN HUKUM BERBERSAMAAN – WAKIL KETUA UMUM DPN PERADI H. YOVIE MEGANANDA SANTOSA, S.H., M.SI: NILAI-NILAI IDUL FITRI SEBAGAI FONDASI MASYARAKAT YANG BERADAB"
Wakil Ketua Umum DPN Perhimpunan Advokat Indonesia H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si: Nilai-nilai Idul Fitri sebagai Fondasi Masyarakat yang Beradab.

BANDUNG, 22 Maret 2026 – Hari Raya Idul Fitri sebagai Hari Kemenangan menyimpan makna filosofis yang mendalam, yang tidak hanya menyentuh dimensi spiritual semata, melainkan juga memiliki hubungan intrinsik dengan toleransi, keadilan, dan hukum sebagai pilar kehidupan bermasyarakat. Pandangan ini disampaikan oleh H. Yovie Megananda Santosa, S.H., M.Si, Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (DPN PERADI), melalui publikasi dan paparan yang mengangkat esensi nilai-nilai tersebut.

 

TOLERANSI SEBAGAI WUJUD KESADARAN KEBANGSAAN

 

Menurut Yovie, makna mendalam dari toleransi dalam perayaan Idul Fitri terletak pada pemahaman bahwa perbedaan bukanlah halangan, melainkan kekayaan yang memperkuat ikatan sosial. "Ketika kita menyambut Idul Fitri, semangat yang muncul bukan sekadar rasa bahagia pribadi atau keluarga, tetapi kesadaran bahwa kita adalah satu komunitas yang saling membutuhkan," ucapnya dalam tulisan resmi PERADI.

 

Ia menjelaskan bahwa toleransi yang tercermin dalam tradisi perayaan Idul Fitri memiliki akar pada pemahaman bahwa setiap individu memiliki hak dan martabat yang sama, tanpa memandang latar belakang. "Bentuk saling mengucapkan selamat, bertukar hampers, atau berkumpul bersama bukanlah sekadar adat, melainkan manifestasi dari kesadaran bahwa kita hidup dalam harmoni yang dibangun atas penghormatan mutlak terhadap perbedaan," demikian paparannya.

 

Bagi Yovie, makna ini selaras dengan prinsip hukum yang mengakui dan melindungi keberagaman, di mana hukum berperan sebagai alat untuk memastikan bahwa setiap orang dapat menjalankan keyakinannya tanpa khawatir akan diskriminasi atau gangguan.

 

KEADILAN SEBAGAI ESENSI KEMENANGAN

 

Yovie menegaskan bahwa "kemenangan" dalam Hari Kemenangan Idul Fitri memiliki makna yang jauh melampaui kemenangan diri atas hawa nafsu. "Kemenangan yang sesungguhnya adalah kemenangan dalam memahami dan mengamalkan keadilan – baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat luas," tegasnya dalam buku terbitannya tentang hukum dan nilai-nilai budaya.

 

Ia menjelaskan bahwa ibadah puasa sebagai landasan Idul Fitri mengajarkan kesadaran yang mendalam tentang penderitaan orang lain, yang kemudian membentuk pemahaman tentang keadilan sosial. "Ketika kita merasakan lapar dan dahaga, kita tidak hanya belajar menahan diri, tetapi juga merenungkan bagaimana rasanya hidup tanpa akses yang cukup terhadap kebutuhan dasar – hal ini menjadi pondasi bagi kesadaran bahwa keadilan adalah hak setiap manusia," ujarnya.

 

Konsep keadilan dalam ajaran agama, menurut Yovie, memiliki esensi yang sama dengan prinsip keadilan hukum: bahwa setiap orang harus diperlakukan sama di depan hukum dan mendapatkan perlindungan yang setara. Tradisi meminta maaf pada Idul Fitri juga membawa makna keadilan yang restoratif – yaitu memperbaiki kerusakan yang telah terjadi dan memulihkan hubungan yang terganggu, bukan hanya fokus pada hukuman.

 

HUKUM SEBAGAI PENJAGA MAKNA NILAI-NILAI LUHUR

 

Yovie melihat bahwa hukum memiliki peran yang krusial dalam menjaga dan menguatkan makna mendalam dari nilai-nilai Idul Fitri. "Hukum tidak hanya sebagai aturan yang harus dipatuhi, tetapi juga sebagai wadah untuk mewujudkan nilai-nilai toleransi dan keadilan yang terkandung dalam perayaan Idul Fitri," demikian yang tercantum dalam modul pendidikan hukum masyarakat yang dikembangkan PERADI.

 

Ia menjelaskan bahwa regulasi yang mengatur tentang perayaan hari raya, keselamatan masyarakat selama mudik, hingga larangan terhadap segala bentuk diskriminasi, adalah bentuk konkrit bagaimana hukum berperan untuk memastikan bahwa makna mendalam dari Idul Fitri dapat terwujud dalam kehidupan nyata. "Hukum menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai spiritual dengan tatanan sosial yang beradab," paparnya.

 

Sebaliknya, semangat nilai-nilai Idul Fitri juga memperkaya makna hukum itu sendiri – menjadikannya tidak hanya sebagai sistem aturan, tetapi juga sebagai alat untuk membangun masyarakat yang lebih manusiawi dan harmonis. "Ketika hukum dijiwai dengan semangat toleransi dan keadilan yang diajarkan oleh Idul Fitri, maka hukum akan benar-benar menjadi pelindung hak dan martabat manusia," jelas Yovie.

 

MAKNA ABADI UNTUK MASA DEPAN

 

Menurut Yovie, makna mendalam dari Hari Kemenangan Idul Fitri memiliki relevansi yang abadi dan menjadi pondasi bagi masyarakat yang ingin menghadapi tantangan zaman. "Di tengah dinamika perubahan yang cepat, kita membutuhkan pijakan yang kokoh – dan nilai-nilai toleransi, keadilan, dan rasa tanggung jawab yang terkandung dalam Idul Fitri menjadi pondasi itu," ucapnya.

 

Ia berharap bahwa makna mendalam ini dapat terus diperdalam dan diterapkan dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam praktik hukum dan advokasi. "Sebagai advokat, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga bahwa makna ini tidak hanya tinggal pada perayaan tahunan, tetapi tumbuh sebagai bagian dari cara kita berpikir, bertindak, dan membangun tatanan masyarakat yang lebih baik," pungkasnya.(red)

Recent Articles

Chat with us on WhatsApp